Selasa, 24 Agustus 2010

POLA - POLA BUDAYA MENURUT EDWARD T HALL PADA BUDAYA KONTEKS TINGGI DAN KONTEKS RENDAH

Oleh Dwi Kartikawati, S.Sos,M.Si

Komunikasi antar budaya adalah mengacu pada realitas bahwa adanya keragaman dalam masyarakat yang masing-masing memiliki unggah ungguh(Jawa), tata cara, etika dalam berkomunikasi dengan individu yang memilki latar belakang budaya berbeda . Sesungguhnya komunikasi antar budaya ini mulai berlangsung manakala adanya pertemuan antar budaya diantara individu dengan budaya yang berbeda. Sebagaimana dikatakan oleh Tingtoomey(1999:17) bahwa intercultural communications is defined as the symbolic exchange process wherwby from two(or more) different cultural communities negotiate shared meaning in an interactive situation. Yaitu suatu proses pertukaran simbolik dimana two individu atau lebih dengan budaya yang berbeda saling menegosiasikan makna dalam segala situasi yang terjadi dalam interaksi.hal tersebut mengakibatkan tiap individu harus berusaha mengembangkan komunikasi yang baik tentunya sehingga terjadi komunikasi antar budaya yang baik pula..

Kita ketahui bahwa setiap kebudayaan mengajarkan berbagai macam cara-cara tersendiri dalam melakukan pertukaran informasi. untuk itu kebudayaaan ten tunya memilki prosedur tertentu agar pengiriman informasi yang dialihkan dan dapat diterima itu menjadi lebih mudah dikomunikasikan. Dalam budaya tertentu memilki yang disebut dengan High Context Culture (HCC) dan Low Context Culture(LCC).Uraian di bawah ini akan memperjelas perbedaan keduanya yang diolah dari sumbernya (Liliweri 2007:116-118).

Pola budaya HCC (Budaya Konteks Tinggi);
  1. Persepsi terhadap isu yang ada dan orang yang menyebarkan isu. Dalam hal ini HCC tidak memisahkan isu dan orang yang mengkomunikasikannya. Sehingga yang terjadi adalah kadang-kadang isu itu dianggap benar tergantung dari siapa yang mengatakannya. Bahkan terkadang seseorang akan menolak orang.yang memberikan isu sekaligus menolak informasi yang diberikan.
  2. persepsi pada relasi tugas. Dalam budaya HCC mengutamakan relasi sosial dalam melaksanakan tugas karena berorientasi pada orientasi sosial dan pada hubungan personal (personal relations).
  3. persepsi terhadap logis tidaknya informasi. Budaya HCC tidak meyukai sesuatu yang terlalu rasional, cenderung mengutamakan emosi dalam mengakses informasi .Mereka lebih menyukai basa nasi.
  4. persepsi terhadap Gaya KomunikasiDalam budaya HCC selalu menggunakan gaya komunikasi tidak langsung, gaya komunikasi yang kurang formal dan mengutamakan dengan pesan nonverbal.
  5. persepsi terhadap pola negosiasi. Anggota masyarakat dalam budaya HCC mengutamakan perundingan yang mengutamakan faktor-faktor relasi antar manusia dengan mengutamakan perasaan dan intuisi serta mengutamakan hati.
  6. persepsi terhadap informasi mengani individu. Budaya HCC mengutamakan kehadiran individu dengan dukungan faktor sosial, mereka tidak mempedulikan siapa dia, pekerjaan apa, benar salah, ahli atau tidak. Budaya HCC ini lbih mendengarkan loyalitas kelompoknya.
  7. Bentuk pesannya sebagian besar  merupakan pesan-pesan implisit yang tersembunyi.
  8. Dalam melakukan reaksi terhadap sesuatu tidak selalu tampak.
  9. dalam memandang ingroup (yang ada dalam kelompoknya) dan outgroupnya  (yang berda diluar kelompoknya)selalu luwes dalam melihat perbedaan.
  10. pertalian antar pribadinya sangat kuat.
  11. konsep terhadap waktunya sangat terbuka dan luwes.
Pola budaya LCC (Budaya Konteks Rendah);

  1. Persepsi terhadap isu yang ada dan orang yang menyebarkan isu. Dalam hal ini LCC memisahkan isu dan orang yang mengkomunikasikannya. Sehingga yang terjadi adalah kadang-kadang isu itu dianggap benar tergantung dari siapa yang mengatakannya.Dalam budaya LCC lebih mengutamakan isi informasi dan tidak mempersoalkan asal informasi. .
  2. persepsi pada relasi tugas. Dalam budaya LCC mengutamakan relasi sosial yang ada berdasarkan relasi tugas(task oriented) dan pada hubungan impersonal (impersonal relations).
  3. persepsi terhadap logis tidaknya informasi. Budaya HCC tidak meyukai sesuatu yang terlalu rasional, cenderung mengutamakan emosi dalam mengakses informasi .Mereka lebih menyukai basa nasi.
  4. persepsi terhadap Gaya KomunikasiDalam budaya LCC selalu menggunakan gaya komunikasi  langsung, gaya komunikasi yang  formal dan mengutamakan dengan pesan verbal.
  5. persepsi terhadap pola negosiasi. Anggota masyarakat dalam budaya LCC mengutamakan perundingan melalui bargaining.yang mengutamakan faktor-faktor otak daripada hati.Pilihan kopmunikasi meliputi pertimbangan rasional.
  6. Persepsi terhadap informasi mengani individu. Budaya LCC mengutamakan kapasitas  individu tanpa memperhatikan faktor sosial, mereka mengutamakan informasi seorang individu, aspek-aspek indoividu harus lengkap dan mereka tidak mengutamakan pertimbangan latarbelakang keanggotaan individu
  7. Bentuk pesannya sebagian besar  jelas dan merupakan pesan-pesan eksplisit
  8. Dalam melakukan reaksi terhadap sesuatu selalu tampak.
  9. Selalu meisahkan kepentingan  ingroup (yang ada dalam kelompoknya) dan outgroupnya  (yang berada diluar kelompoknya).
  10. pertalian antar pribadinya sangat lemah.
  11. konsep terhadap waktunya sangat terorganisir.
Sumber:
Tingtoomey, Stella,1999, Communications Across Culture, The Guilford Press,New York, London
Liliweri, Alo, 2007, Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya, LKIS, Yogyakarta.

.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar