Sabtu, 04 September 2010

LEBARAN SEBAGAI MOMENT PENTING DALAM PENCIPTAAN MANUSIA UNIVERSAL

Setelah melalui bulan suci Ramadhan ini maka umat Islam akan kembali ke fithrah dan merayakan Hari Raya Idhul Fitri. Dalam moment tersebut kita umat Islam terutama saling bermaaf-maafan atas kesalahan kita dimasa lalu. Apabila dicermati maka pada moment lebaran ini adalah saat yang sangat menyenangkan bagi siapapun, tak terkecuali yang bukan beragama Islam.

Pada masa liburan tersebut ada kesempatan bagi siapapun untuk rehat sejenak atas rutinitas yang telah dilakukan selama bulan-bulan sebelumnya. Kata Ied menurut bahasa Arab yang menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, yang berasal dari kata AL 'Aud dan memiliki makna karena pada tersebut Alloh memilki berbagai macam kebaikan yang diberikan untuk hamba-hambaNya antara lain bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, penyempurnaan haji dengan thowaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya.Pada hari Raya Umat Islam Idhul Fitri ini, di daerah-daerah khususnya daerah Jawa, Sumatra, dan lain-lain berkumpul dengan keluarga  baik yang sebelumnya melakukan mudik(baca: tentang mudik di blog penulis sebelumnya) ataupun yang memang ada di daerah setempat. Ucapan mohon maaf lahir bathin berkumandang dimana-mana. Untuk kalangan anak muda mengucapkan 'kosong-kosong dan lain-lain dengan maksud saling memaafkan sehingga tidak ada lagi kesalahan.

Dalam suasana lebaran tersebut terasa akan lebih bermakna apabila diiringi dengan semangat solidaritas bersama dalam upaya membebaskan bangsa dari keterpurukan. Hal ini selaras dengan pernyataan Prof Buya Hamka, Distribusikan kebahagiaan itu pada mereka yang memerlukan, santunilah yang tidak mampu, tolonglah yang lemah dan bebaskan yang menderita(www.maulanusantara.com) . Sehingga tidak ada salahnya kalau pada moment lebaran ini dijadikan sebagai moment penting dalam menciptakan manusia universal. Karena kita ketahui bahwa ternayata ucapan bermaaf-maafan ini  dilakukan pula secara universal sebagai bentuk penghormatan pada agama Islam yang merayakan, dimana agama adalah salah satu unsur budaya. Untuk itu hal ini memberikan isyarat bahwa sungguh penting adanya manusia manusia universal sdalam konteks manusia antar budaya .

Kita pahami bahwa manusia yang seperti itu adalah tidaklah berarti seberapa banyak manusia itu ahu tetapi seberapa dalam dan luas intelektualitas yang dimiliki dan bagaimana manusia tersebut dapat menghubungkan dengan masalah-masalah penting yang universal. , tanpa menghilangkan perbedaan-perbedaan budaya tanpa mengilangkan identitas kita. Tidak pula berarti berbuat seperti orang Roma jika berada di Roma, tidak.Yang paling utama adalah kita berperilaku dengan cara-cara yang dapat diterima budaya orang lain tapi juga diterima budaya kita sendiri. Maka dalam moment lebaran ini kita dapat menjadi manusia antarbudaya, sementara kita menjadi manusia Indonesia yang menganut suatu agama.Kita tidak akan memaksakan kehendak kita pada orang lain tetapi justru kita memberikan penghormatan yang utama pada budaya dan agama orang lain. Dengan moment bermaaf-maafan itu kita secara tidak langsung telah berlatih menjadi manusia universal yang memandang bahwa manusia itu adalah sederajat, tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi dalam tataran harta, status, dan lain-lain.

Moment lebaran ini justru merupakan moment menbahagiakan bagi siapa saja untuk menciptakan manusia-manusia yang memberikan penghormatan yang tinggi pada manusia lainnya. Semoga kita dapat meresapi momet lebaran ini dengan penuh khidmat, tanpa melupakan orang lain di sekitar kita siapapun dia yang membutuhkan uluran tangan kita . Semoga.........   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar