Selasa, 31 Agustus 2010

RINDU KEHIJAUAN DAN SYUKURKU PADA LAUT

Sejuknya nuansa alam yang sayup-sayup meratap
KEHIJAUAN
Setiap kali kaki ini melangkah melihat kehijauan, terasa hatiku tentram. Seolah-olah beban dunia yang terkadang menghimpit langsung lenyap seketika. Tetapi betapa sulitnya sekarang untuk mendapatkan kehijauan yang mampu membelai hati menjadi tenang....



LAUT
Desiran itu selalu mengingatkan kalau aku menyukaimu, dan inginku untuk datang membelai percikanmu, harum garammu, dan sayatan patah kayu di tepimu, dengan gelombang lembut yang terkadang nanar, tetapi tetap membuatku rindu padamu. Ketika sampai nanti aku akan mensyukuri semua itu melalui pandanganmu...Oh Laut..

Senin, 30 Agustus 2010

MASA DEPAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Ada empat dimensi dalam melihat masa depan komunikasi antar budaya ini, seperti yang dikatakan Samovar and Porter(2003:334)bahwa:
1. adanya perbedaan budaya
hal ini terlihat dari populasi yang semakin meningkat yang tentunya masing-masing
semakin beragam pula budaya yang dimiliki.
2. adanya masalah-masalah internasional
banyaknya masalah-masalah interasional yang tentunya akan membuat bertambah pula
permasalahan-permasalahan yang ada antara lain:
a. meningkatkan kekerasan
b. meningkatkan kemiskinan dan kelaparan
c. polusi
3. adanya budaya global
Mc Luhan pernaha menyatakan bahwa dunia telah menjadi desa global (Global
Village) sehingga terjadi homogenitas budaya.Mulai dari budaya coca cola, Big
Mac, Worl Wide Web dan lain sebagainya.
4. adanya identitas etnis dan budaya
dengan adanya berbagai orang dengan beda budaya maka akan bayak berbeda pula
etnis dan budaya yang ada. Kalau tidak dapat di atasi maka dapat memicu konflik

Dari paparan di atas maka komunikasi Antar Budaya itu memiliki masa depan yang menjanjikan dalam rangka menciptakan dunia yang selalu memandang bahwa pernedaan adalah sebuah kekayaan dan keunikan dan tidak perlu memaksakan untuk menjadi persamaan tetapi sejauh mana kita dapat menghargai perbedaan itu demi terciptanya masyarakat yang damai. Untuk itu harapan terbesar adalah menjadikan manusia-manusia antar budaya yang baik pula. Amien.

Jumat, 27 Agustus 2010

FORMAT-FORMAT INTERAKSI DALAM KOMUNIKASI ORGANISASIONAL

1.KOMUNIKASI ORGANISASI DYAD
Kesuksesan pertemuan dalam hubungan yang bersifat dyadic dalam suatu organisasi terjadi ketika masing-masing memperlihatkan adanya saling kejujuran, kepercayaan dan cinta.dan sisanya adalah dengan keterbukaan dan bersifat permisif satu sama lain, sehingga dapat menumbuhkan dan mengembnagkan suatu kemanfaatan bagi para individu dan organisasi.
Carl Rogers menyatakan bahwa hubungan interpersonal yang efektif terjadi ketika keduanya telah memenuhi kondisi-kondisi seperti di bawah ini
1. adanya pertemuan secara personal dalam basis satu orang dengan satu orang
2. adanya saling memahami dan saling berempati
3. adanya saling menghormati secara hangat dan positif
4. saling menghormati tanpa evaluasidan reservasi
5. adanya perasaan keikhlasan, menerima dan berempati
6. selalu memelihara keterbukaan dan iklim supportive yang mengurangi tendensi yang mengubah makna
7. memperlihatkan perilaku yang dapat dipercaya sehingga menguatkan rasa aman
Pace dan koleganya juga menambahkan dua kondisi dari hasil kerja Roger yaitu
1. menerima secara bertanggungjawab apabila terjadi kesalahpahamanan dan secara aktif mencari kesamaan makna dan persepsi
2. melengkapi tujuan dari interaksi interpersonal (kepuasan, konfirmasi diri dan konfirmasi dari lingkungan fisik, perubahan yang diinginkan dan produktiitas)

Disini kita menjelaskan mengenai elemen penting yang disebut suatu iklim supportive dan iklim defensif.
Menurut Jack Gibb ada beberapa karakter a defensive climate yaitu
1. Evaluasi
evaluasi artinya penilaian terhadap organg lain, memuji atau mengecam.Dalam mengevaluasi kita mempersoalkan nilai dan motif orang lain. Bila kita menyebutkan kelemahan orang lain, mengungkapkan betapa jelek perilakunya meruntuhkan harga dirinya kita akan melahirkan sikap defensif. kontrol dan
2. strategy
strategi adalah penggunaan tipuan-tipuan atau manipulasi untuk mempengaruhi orang lain.
3. netralitas
netralitas berarti sikap impersonal—memperlakukan orang lain tidak sebagai persona, melainkan sebagai obyek
4. superioritas adalah sikap menunjukkan anda lebih tinggi atau lebih baik daripada orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual, kekyaan atau kecantikan. Superioritas akan melahirkan sikap defensif., mengkomunikasikan perilaku superior dalam posisi, kekayaan, kemampuan intelektual dan karakteristik fisik, perasaan
5. kepastian atau certainty, orang yang memilki kepastian bersifat dogmatis, ingin menang sendiri dan melihat perbedaan sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat

Iklim supportive memilki karakteristik-karakteristik:

1. Deskripsi artinya penyampaian perasaan dan persepsi anda tanpa menilai
2. Orientasi masalah
perilaku kontrol artinya berusaha untuk mengubah orang lain, mengendalikan perilakunya mengubah sikpa, pendapat dan tindakannyaorientasi orientasi masalah
3. Spontanitas artinya sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam
4. Empati artinya memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita
5. persamaan artinya sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis. Dalam sikap persamaan, amnda tidak mempertegas perbedaan.Status boleh jadi berbeda
6. provisionalisme adalah kesediaan untuk meninjau kembali pendapat kita, untuk mengakui bahwa pendapat manusia adalah tempat kesalahan, karena itu wajar juga kalau satu pendapat dan keyakinannya bisa berubah.

2. KOMUNIKASI ORGANISASI KELOMPOK KECIL

Kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil yang masing-masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu diantara mereka. Karakter-karakternya adalah sebagai berikut
1. kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan, jumlahnya cukup kecil sehingga semua anggota bisa berkomunikasi dengan mudah sebagai pengirim dan penerima. Pada umumnya suatu kelompok kecil terdiri dari kira-kira 5 hingga 12 orang. Yang penting diingat bahwa setiap anggota harus bisa berfungsi sebagai sumber maupun penerima dengan relatif gampang.
2. para anggota harus dihubungkan satu sama lain dengan beberapa cara sehingga perilaku anggota menjadi nyata bagi anggota lainnya
3. diantara anggota harus ada beberapa tujuan yang sama
4. para anggota kelompok harus dihubungkan oleh beberapa aturan dan struktur yang terorganisasi.

TYPE-TYPE KELOMPOK
Brooks mengidentifikasi 5 tipe kelompok dalam suatu organisasi yaitu:
a. kelompok primer : biasanya individu dalam keluarga dan teman dekat
b. kelompok kasual : biasanya untuk pertukaran ide-ide yang bermanfaat dan mengembangkan hubungan sosial yang sifatnya informal
c. kelompok pendidikan : biasanya mengenai bernagai instruksi dan tentang pembelajaran
d. kelompok terapeutik : biasanya oleh para pekerja social, psikolog, psikater dan konselor yang bertujuan adanya perubahan perilaku diantara klien mereka
e. kelompok pemecahan masalah biasanya disusun untuk tugas yang spesifik

FORMAT KELOMPOK KECIL
Kelompok kecil melaksanakan kegiatannya dengan berbagai format. Format yang paling popular adalah
1. panel atau meja bundar
dalam format ini anggota kelompok mengatur diri mereka sendiri dalam pola melingkar atau semi melingkar. Mereka berbagai informasi atau memecahkan permaslahan tanpa pengaturan siapa dan kapan mereka bicara. Anggota akan memberikan kontribusinya jika mereka sendiri merasa layak untuk itu
2. seminar
dalam format ini anggota kelompok adalah para pakar dan berpartisipasi dalam format panel atau meja buindar. Perbedaannya adalah dalam seminar terdapat peserta yang naggotanya diminta untuk berkontribusi. Mereka bisa diminta untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan beberapa umpan balik.
3. symposium
dalam format ini setiap anggota menyajikan presentasi yang telah disiapakan seperti halnya pidato didepan umum. Semua pembicara menilik dari aspek yang berbeda mengenai satu topik. Dalam simposium pemimpin akan memperkenalkan para pembicara mengatur alur dari satu pembicara ke pembicara lain dan bisa juga menyampaikan ringkasannya secara berkala.
4. symposium-forum
dalam format ini terdiri dua bagian yaitu simposiumn dengan pembicara yang sudah disipakan dan forum, yang mempersilakan para hadirin untuk mengjaukan pertanyaan dan dijawab oleh pembicara. Pemimpin akan memperkenalakan para pembicara dan menjadi moderator dalam acara Tanya jawab.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL AKTIVITAS DARI KELOMPOK KECIL
1. fungsi peran
peranan dimainkan oleh anggota kelompok dapat membantu menyelesaikan tugas kelompok, memelihara suasana emosional yang baik. Ada dua peranan yaitu:
a. group task roles atau peranan tugas kelompok
yaitu memecahkan masalah atau melahirkan gagasan-gagasan baru. Peranan tugas berhubungan dengan upaya memudahkan dan mengkoordinasikan kegiatan yang menunjang tercapainya tujuan kelompok
b. group building or maintenance roles
yaitu memelihara hubunagn emosional diantara kelompok
2. conformity
adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju(norma) kelompok sebagai akibat tekanan kelompok-yang real atau yang dibayangkan.
Sebagai gambaran adalah sebagai berikut bila sejumlah orang dalam kelompok melakukan sesuatu ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama.
3. kepemimpinan
kepemimpinan adalah factor yang paling menentukan keefektifan kelompok
4. jaringan
5. pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
ada model group problem solving yang dikembangkan oleh Brooks, Schein, Pace dan Boren yang mengikuti model asli dari Richard Wallen yaitu
a. mengidentifikasi dan menganalisa maslah
b. mengembangkan kemungkinan solusi-solusi
c. mengevaluasi solusi-solusi yang dikembangkan
d. menganalisa cost benefit
e. membuat keputusan

JARINGAN KOMUNIKASI
Adalah pola-pola aliran komunikasi yang merupakan suatu system dari berbagai titik komunikasi untuk pengambilan keputusan.

Macam jaringan
Menurut Robert Townsend (1985) dalam Further Up the Organization, membicarakan tentang jaringan komunikasi sebagai pola interaksi manusia, adapun macam adalah sebagai berikut :
1. Roda, semuanya merupakan kelompok lima orang dimana biasanya seorang anggotanya menjadi pemimpin merupakan pusat komentar dari setiap anggota kelompok. Karena pemimpin ada dalam jaringan ia bebas berkomunikasi dengan keempat anggota lainnyan tetapi mereka hanya dapat berkomunikasi dengan si pemimpin saja
2. rantai, dalam jaringan ini tiga orang dapat berkomunikasi dengan yang disebelahnya tetapi yang dua orang hanya dapat berkomunikasi dengan seorang anggota lainnya
3. Y, dalam jaringan ini mirip dengan jaringan rantai yaitu tiga dari lima orang hanya dapat berkomunikasi dengan seorang anggota lainnya. Berbeda dengan ketiga system tersebut yang dipusatkan dan cenderung mempunyai seorang pemimpin.
4. Lingkaran, setiap orang dapat berkomunikasi dengan dua orang yang bersebelahan dengannya
5. Semua saluran, dalam semua saluran komunikasi terbuka setiap orang dapat berkomunikasi dengan semua anggota lainnya.

PERANAN JARINGAN
Ada enam peranan jaringan komunikasi yaitu
1. opinion leader
adalah pemuka pendapat atau pimpinan informal dalam organisasi. Mereka ini tidak selalu orang-orang yang memilki otoritas formal dalam organisasi tetapi membimbing tingkah laku anggota organisasi dan mempengaruhi keputusan mereka
2. gate keeper
adalah individu yang mengontrol arus informasi diantara anggota organisasi. Mereka berada ditengah suatu jaringan dan menyampaikan pesan dari satu orang kepada ornag lain atau tidak memberikan informasi. Gate jkeeper dapat menolong orang anggota penting organisasi untuk menghindarkan informasi yang terlalu banyak dengan hanya memberi informasi yang penting saja.
3. cosmopolities
adalah individu yang menghubungkan organisasi dengan lingkungannya, mereka ini mengumpulkan informasi dari sumber-sumber yang ada dalam lingkungannya dan memberikan informassi mengenai organsiasi kepada ornag-ornag tertentu pada lingkungannya
4. bridge
adalah anggota kelompok atau klik dalam satu organisasi yang menghubungkan kelompok itu dengan anggota kelompok lainnya. Individu ini membantu saling memberi informasi diantara kelompok-kelompok dan mengkoordinasi kelompok.
5. liaison
yaitu sama peranannya dengan bridge tetapi individu iotu sendiri bukanlah anggota dari satu kelompok tetapi dia merupakan penghubung diantara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Individu ini juga membantu dalam membagi informasi yang relevan diantara kelompok dalam organisasi.
6. isolate
adalah anggota organisasi yang mempunyai kontak minimal dengan orang lain dalam organisasi.Orang-orang ini menyembunyikan diri dalam organisasi atau diasingkan oleh teman-temannya.

3. KOMUNIKASI ORGANISASI PUBLIK
Melibatkan pertukaran pesan dari organisasi ke audience atau publik. Yang bisa internal ataupun eksternal. Medium dari komunikasinya dapat face to face atau melalui saluran bermedia.Suatu organisasi perlu berkoordinasi dengan publik dan berusaha mengkomunikasikan secara sinergi dengan publik internal maupun eksternal.
Menurut Zelko dan Dance komunikasi internal digunakan untuk memperbaiki efisiensi dalam operasional didalam organisasi. Tetapi Daniel dan Spiker mencatat bahwa ini termasuk berbagai aspek dalam komunikasi organisasi dari fungsi managemen dan sumber daya manusia. Yaitu orientasi, keamanan, kompensasi dan benefit, pelatihan dan pengembangan dan perbaikan moral pekerja dan kepuasan kerja.
Komunikasi publik eksternal termasuk:
1. korporat/komunikasi citra/image organisasi
2. isu dan opini publik
3. komunikasi komersial yang mempromosikan produk atau jasa.

BEBERAPA KEMUNGKINAN/CONTINGENCIES YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI
Ada beberapa factor kemungkinan yang mempengaruhi seluruh publik komunikasi organisasi . Atau hubungan antara kemungkinan factor eksternal dengan macam publik dalam organisasi yang harus dihadapi yaitu
1 factor ekonomi yaitu sejumlah stabilitas dalam kompetisi pasar dan berpengaruh pada sumber modal yang tersedia bagi organisasi
2 faktor tehnologi yaitu tingkatan inovasi dalam penelitian dan pengembangan ilmu dan tehnologi yang mempengaruhi organisasi
3 faktor legal faktor sosiopolitik budaya yaitu berkaitan dengan aturan, petunjuk atau undang-undang yang berlaku local, tingkat negara dan lain-lain
4 faktor lingkungan dan kesehatan yaitu tingkat pengaruh dari iklim, geografi, populasi, energi yang tersedia bagi organisasi

HAL HAL YANG MEMBEDAKAN KOMUNIKASI ORGANISASI PUBLIK DENGAN KOMUNIKASI DYAD DAN KELOMPOK KECIL
1. komunikasi adalah lebih berorientasi pada sumber (pembicara)
kalau dalam komunikasi organisasi dyad dan kelompok kecil hubungan bersifat resiprokal anata sumber dengan penerima sedangkan dalam komunikasi organisasi publik lebih menekankan pada pembicara dimana pembicara/speaker lebih mendominasi
2. mencakup sekelompok besar penerima yang dilibatkan.
Dalam hubungan dyad dan kelompok kecil tidak mencakup publik yang luas karena hanya terdiri tidak lebih dari tujuh anggota. Dan ketika komunikasi dengan tatap muka dengan semua anggiota menjadi sulit dan tidak mungkin maka perlu dipertimbangkan dengan komunikasi publik sehingga pembicara dapat mengakomodasi kelompok yang luas tersebut
3. ada sedikit interaksi antara pembicara dan pendengar
Menurut Brook tidak mungkin memahami masing-masing individu secara spesial seperti dalam hubungan dyad atau kelompok kecil.
4. bahasa adalah lebih umum
dalam komuniaksi organisasi publik pemnbicara harus menggunakan bahasa yang umum karena besarnya audience.

BEBERAPA TYPE AKTIVITAS KOMUNIKASI ORGANISASIONAL PUBLIK
Beberapa aktivitas dalam komunikasi organisasi publik yang popular (Goldhaber, 1993:301)
Aktivitas internal Aktifitas eksternal
Supervisory Meeting or departement head
Suggestion System
Organization meetings(boss talks, jobholders meeting)
Union meeting
Grapevine
Social Functions (picnics, holiday parties, awards banquets, etc)
Oral tehnical report and presentations
Training programs
Orientation sessions
Briefing and information sessions Goodwill speeches
Commercial speeches and advertising
Political speeches
Loobying
Civic and social club presentations
Formal public speech (special occasion)
Television and radio interviews
Testimony before legislative bodies
Addresses to stockholders


MENGAPA ORGANISASI MENGGUNAKAN KOMUNIKASI ORGANISASI PUBLIK
1. untuk menciptakan, memperkuat dan mendefinisikan kembali citra mereka terutama dimata para publiknya
2. mempengaruhi legislative dan isu-isu lain yang penting bagi organisasi mereka
3. mempromosikan produk-produk atau jasa –jasa yang diproduksinya
4. mengkomunikasikan dengan pihak publik internal dan eksternal

Sumber:
Goldhaber, Gerald, Organizational Communication, six edition, McGraw, 1993

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA :KECAKAPAN EMPATIK DALAM MENGATASI PERBEDAAN

Globalisasi ditandai dengan semakin maraknya interaksi antar budaya. Hal ini bisa dipahami seiring pesatnya perkembangan tehnologi dan komunikasi yang memungkinkan terbukanya keran komunikasi dan tersebarnya informasi sehingga interaksi antarkultural yang tanpa batas sangat mungkin dilakukan. Tetapi yang menjadi masalah adalah bahwa upaya interaksi yang terjadi antar kultural tersebut seringkali menimbulkan pemahaman yang berbeda terhadap perbedaan budaya. Beda budaya inilah yang terkadang disikapi dengan tidak bijak.

BEDA BUDAYA DAN KOMUNIKASI

Ketika pertama kali kita mengadakan kontak dengan orang yang kita sebut sebagai stranger maka muncul dibenak kita bahwa mereka berbeda dengan kita dan yang lebih rawan lagi mereka bukan kelompok kita dan kita harus berjaga-jaga. Menurut Simmel konsep strangers adalah bahwa mereka merupakan representasi yang mengandung gagasan antara ‘kedekatan’karena secara fisik memang dekat dan gagasan ‘kejauhan’ karena mereka memiliki nilai-nilai yang berbeda dan jalan yang berbeda pula mengenai apa yang dikerjakan.Secara fisik mereka ada dan berpartisipasi dalam situasi dan waktu yang sama pula berada diluar situasi karena mereka bukan anggota kelompok. Pada saat pertemuan dengan strangers terjadi muncul kecemasan-kecemasan dalam berinteraksi. Kita akan melakukan prediksi-prediksi perilaku terhadap mereka. Dalam tataran komunikasi antarbudaya seperti yang dinyatakan oleh Miller dan Steinberg kita menggunkan tipe data cultural yaitu data-data kultural ini digunakan untuk memperkirakan perilaku dari budaya kita dan budaya orang lain.
Ada dua faktor yang mempengaruhi keakuratan prediksi kita ketika menggunakan data kultural yaitu (1) Banyaknya pengalaman pada level kultural yang kita punya. Yaitu tergantung pengalaman kita tentang budaya mereka.(2) Kesalahan yang dibuat karena kita tidak menyadari pengalaman budaya dari stranger tersebut atau karena kita memprediksi dengan pengalaman dasar budaya yang berbeda dari seseorang yang kita gunakan. Disamping itu data prediksi sociological hal ini berdasarkan pada anggota anggota dari stranger atau aspirasi-aspirasi dalam kelompok sosial tersebut. Prediksi kita pada level sosiological contohnya berdasar pada keanggotaan stranger dalam kelompok politik atau sosial. Peran yang diberikan, gender mereka atau etnis mereka. Kesalahan dalam membuat prediksi pada kenyataannya bahwa stranger adalah anggota kelompok dan ketika kita berkomunikasi dengan mereka kita tidak selalu yakin dengan norma-norma kelompok dan nilai-nilai yang mempengaruhi perilaku mereka. Pertemuan dengan orang asing membawa kejutan (ketidakpastian) dan tekanan (kecemasan). Beberapa kejutan dapat mengguncang konsep diri kita dan identitas budaya kita dan membawa kecemasan sementara yang tidak beralasan. Ketika kita asing dengan budaya tertentu tentu kita mengkonfrontasi situasi tersebut dimana kondisi mental dan prilaku kebiasaan kita dipertanyakan.Termasuk situasi yang memproduksi konflik dimana kita dikuatkan secara temporer untuk mengetahui identitas kita dengan pola budaya yang disimbolisasi tentang siap kita dan kita ini apa.Culture Shock adalah Reaksi terhadap situasi yang baru disebut sebagai culture shock atau guncangan budaya. Oberg (1958) adalah orang pertama yang memperkenalkan terminologi culture shock /guncangan budaya, yang berhubungan dengan pengalaman antropolog yang harus belajar mengatur pelanggaran realitas sosial mereka dalam norma, nilai, sosial yang asing. Pelanggaran ini mewakili tantangan terhadap sosialisasi utama mereka. Lundstedt (1963) menggambarkan guncangan budaya sebagai bentuk kegagalan adaptasi diri, reaksi terhadap kegagalan sementara terhadap penyesuaian dengan lingkungan dan masyarakat yang baru.
Prediksi ini berdasarkan pada orang-orang yang spesifik yang berkomunikasi dengan kita. Ketika menggunakan data ini kita concern pada bagaimana orang-orang ini berbeda dan sama dari anggota lain dari budaya dan kelompok yang mereka miliki.Menurut Stephan dan Stephan dalam Gudikunst kita merasa takut pada konsekuensi negatif ketika berinteraksi dengan strangers yaitu (1) Kita merasa takut konsekuensi negatif untuk konsep self kita. Kita juga takut kehilangan self esteem yang akan mengancam identitas sosial kita dan kita merasa bersalah kalau kita berkelakuan yang menyakiti strangers.(2) Kita merasa takut konsekuensi perilaku negatif kita. Kita merasa mereka akan mengeksploitasi kita, mengambil keuntungan, mencoba mendominasi kita, dan juga khawatir terjadinya konflik verbal.(3) Kita takut mengevaluasi negatif para strangers.(4) Kita takut dievaluasi negatif oleh anggota ingroup kita.kita takut dicela, kita ditolak anggota grup kita, mendapat sanksi dan lain sebagainya.
Kecemasan-kecemasan yang mendera tatkala terjadi pertemuan budaya juga dimaknai dengan seberapa besar derajat homofily dan heterofily dari masing-masing budaya. Apabila kita merujuk pada model komunikasi Gudikunt dan Young Yun Kim Dalam keadaan apapun manusia dalam kehidupan akan memaknai apa yang kita sebut sebagai symbol-simbol. Menurut Arnold Rose dalam Ridwan Usman (2001:33) menyebutkan proposisi proposisi (1) manusia hidup dalam suatu lingkungan symbol-simbol. Manusia memberikan tanggapan-tanggapan terhadap tantangan yang bersifat fisik, misalnya terhadap panas dan dingin. Tetapi keistimewaan manusia terletak pada kemampuan mengomunikasikan simbol-simbol itu secara verbal melalui pemakaian bahasa (2) melalui symbol-simbol manusia berkemampuan menstimulir orang lain dengan cara-cara yang mungkin berbeda dari stimuli yang diterimanya dari orang lainitu. (3) melalui komunikasi symbol-simbol dapat dipelajari cara-cara tindakan orang lain,(4) simbol makna serta nilai-nilai yang berhubungan dengan mereka tidak hanya terpikirkan oleh mereka dalam bagian yang terpisah tetapi selalu dalam bentuk kelompok, yang kadang-kadang luas dan komplek. Gudikunt(1995) berargumentasi bahwa keefektifan komunikasi dengan orang asing adalah suatu fungsi dari kemampuan kita untuk mengatur kecemasan dan ketidakpastian kita. Riset dari Hubbert, Guerrero dan Gudikunt mengindikasikan bahwa kualitas yang diterima dan keefektifan komunikasi yang diterima dipengaruhi oleh sejumlah adanya kecemasan dan ketidakpastian dalamn ineteraksi. Kecemasan dan ketidakpastian yang sedikit paling besar diterima kualitas dan keefektifannya dari komunikasi
Menilik pada sejarah manusia menurut Fuad Hasan bahwa timbul-tenggelamnya kebudayaan sangat dipengaruhi oleh apa yang tenjadi dalam pertemuan antarbudaya, yaitu sejauh mana satu di antara fihak yang saling bertemu kurang atau tidak lagi memiliki ketahanan budaya (cultural resilience). Kebudayaan adalah suatu daya yang sekaligus tersimpan (latent) dan nyata (actual). Demikianlah kebudayaan mengandung dua daya sekaligus, yaitu sebagai daya yang cenderung melestanikan dan daya yang cenderung berkembang atas kemekarannya sendiri. Antara kedua daya inilah tiap masyarakat pendukung kebudayaan tertentu berada; satu daya mempertahankannya agar lestani dan daya lainnya menariknya untuk maju; Dalam kondisi demikian itulah pertemuan antar¬budaya sangat berpengaruh atas perimbangan antara kedua daya tersebut. Sampai batas tertentu dan saling-pengaruh yang terjadi itu dapat terpantul seberapa tinggi derajat kesadaran dan tingkat ketahanan budaya masing-masing fihak yang saling bertemu.

TEMA POKOK YANG MEMBEDAKAN KAB DENGAN KOMUNIKASI LAINNYA
Dan yang paling utama adalah memang perlunya pemahaman mengenai berkomunikasi secara efektif dengan orang lain dengan berbagai latar budaya yang berbeda sehingga mengakibatkan urgensinya pemahaman intercultural atau komunikasi antar budaya ini. Maka perlu kiranya kita membedakan komunikasi antar budaya dari komunikasi lain pada umumnya. Adalah menurut Ilya(dalam Komunikasi Antar Budaya:FISIP UI) adalah derajat perbedaan latar belakang pengalaman yang relatif besar antara para komunikatornya yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan kebudayaan. Sebagai asumsi dasar adalah bahwa diantara individu-individu dengan kebudayaan yang sama umumnya terdapat kesamaan(homogenitas)yang lebih besar dalam hal latar belakang pengalamannya masing-masing secara keseluruhan dibandingkan dengan mereka yang berasal dari kebudayaan yang berlainan.
Perbedaan-perbedaan kebudayaan antara para pelaku komunikasi ini serta perbedaan perbedaan lainnya seperti kepribadian individu, umur, penampilan fisik, menjadi permasalahan yang inheren dalam proses komunikasi manusia. Dengan demikian KAB dapat dikatakan merupakan perluasan dari bidang-bidang studi komunikasi antar manusia lainnya seperti komunikasi antar pribadi, komunikasi organisasi dan lain-lain. Dan dalam Komunikasi Antar Budaya tersebut bisa terdapat dalam semuanya itu.

ALASAN PENTINGNYA KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Adapun ada banyak alasan kenapa kita perlu memahami komunikasi antar budaya ini . Hal tersebut dapat dijelaskan dengan mengacu pada Toomey(1998:4-7) bahwa:

1. Adanya kecenderungan perbedaan secara global
Seiring perkembangan yang menuju apa yang disebut oleh Marshal Mc Luhan sebagai Global Village memberikan implikasi tentang adanya hubungan-hubungan yang meningkat sehingga menimbulkan kesadaran untuk mempelajari masalah komunikasi antar budaya ini. Hal ini terjadi karena masalah pertemuan antar budaya yang terjadi seringkali muncul permasalahan karena banyak pihak yang tidak saling memahami pihak lain yang berbeda dalam hal-hal tertentu
Dengan adanya perbedaan tempat kerja pada level global merepresentasikan antara kesempatan dan tantangan baik bagi individu ataupun organisasi di berbagai belahan dunia ini. Selanjutnya kita melihat pada pernyataan Adler dalam Toomey(1998) bahwa ada lima kompetensi global manakala kita melakukan perbandingan antar budaya yang berbeda diantaranya adalah
a. pemahaman pada lingkungan politik, budaya dan bisnis dengan perspektif global
b. pengembangan pespektif yang multipel atas budaya dan pendekatan budaya yang mendukung bisnis
c. memiliki keahlian dalam bekerja dengan orang lain secara simultan
d. beradaptasi dengan nyaman ketika berhubungan dengan orang lain dari budaya yang berbeda
e. mempelajari cara berinteraksi dengan dunia internasional pada level yang sama dengan tidak ada yang superior ataupun inferior

Kita ketahui bahwa kesuksesan bisnis akan tercapai tergantung pada globalisasi. Dan globalisasi yang efektif itu tergantung pada kesepakatan dengan tempat kerja yang berbeda pula,Untuk itulah perlunya pengetahuan dan keahlian dalam komunikasi antar budaya yang mindfull adalah merupakan langkah pertama yang penting dalam dunia global sekarang

2. Adanya kecenderungan perbedaan Domestik
Selain dalam lingkup internasional juga terjadi perubahan di kalangan domestik dengan munculnya subbudaya-subbudaya yang beragam di lingkup domestik.
Ada dua perangkat dimensi yang memberi kontribusi pada bagaimana caranya suatu kelompok berbeda dari yang lain yaitu:
a. Seperangkat yang disebut sebagai the primary dimensions of diversity yaitu perbedaan manusia semenjak dilahirkan yang memilki pengaruh pada sosialisasi kita (gender, etnis, unur, kelas sosial, kemampuan fisik, orientasi sexual)
b. The secondary dimensions of diversity yaitu kondisi yang dapat diubah atau dimodifikasi dalam kehisupan kita (pendidikan, pekerjaan , dan penghasilan)

3. Adanya kesempatan mempelajari mengenai interpersonal atau dengan kata lain kesadaran pribadi
Dengan komunikasi antar budaya yang mindful akan memberikan pemahaman yang kaya tentang perbedaan makna yang berkonsentrasi pada kerja manusia dan kemauan kita untuk mengekplorasi dan memahami perbedaan budaya dan segala kompleksitasnya yang akan memperkaya pengalaman hidup kita.

UNSUR-UNSUR YANG MENDASARI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA : KOMUNIKASI DAN BUDAYA

Dan pemahaman dalam konteks antar budaya itu tidaklah mudah.Disini diperlukan pemahaman yang mendalam. Dari unsur-unsur yang mendasari terjadinya Komunikasi Antar Budaya adalah konsep-konsep budaya dan komunikasi. Sebagaimana dikatakan oleh Sarbaugh dalam (Ilya: Komunikasi Antar Budaya :18) bahwa pengertian komunikasi antar budaya memerlukan auatu pemahaman tentang konsep-konsep Komunikasi dan Budaya serta saling ketergantungan diantara keduanya. Dan memang antara komunikasi dan budaya itu tidak dapat dipisahkan . Dalam hal ini pengembangan budaya manusia hanya mungkin dilakukan dengan komunikasi dan melalui komunikasi ini budaya dapat ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainya. Seperti yang dikatakan Hall (Gudikunt &Yun Kim, 2002) bahwa budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. Maka kita mengkomunikasikan apa yang kita kerjakan dalam budaya yang memang sudah kita pelajari mulai dari bahasa, aturan, norma dari mulai kita kecil dan tanpa kita sadari budaya tersebut mempengaruhi perilaku kita khususnya dalam berkomunikasi dengan orang lain.

BEBERAPA CONTOH KASUS MACETNYA KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
KOMUNIKASI EMPATIK DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA YANG EFEKTIF

Lalu setelah kita memahami bahwa dalam melakukan atau mengatasi adanya beda budaya tidak berarti kita kemudian menutup diri rapat-rapat dan juga membuka lebar-lebar diri kita terhadap gerusan untuk penyeragaman budaya tetapi paling tidak ada alternatif solusi yaitu memilki kecakapan empatik dalam mengahadapi segala hal tersebut. Dalam hal ini empati adalah sebagai kemampuan melakukan persepsi sosial, adalah ketika seorang individu mampu memprediksi reaksi atau respon orang lain. Detilnya adalah kemampuan seseorang---katakanlah A--- dalam melaporkan keadaan emosional orang lain---misalnya B. Bila penilaian A tentang B sesuai dengan penilaian B tentang dirinya, maka A memiliki empati yang tinggi terhadap B.Adapun langkah yang dapat ditempuh antara lain seperti yang dinyatakan De Vito menyatakan (1)Menahan godaan untuk mengevaluasi, menilai, menafsirkan, dan mengkritik.Karena focusnya supaya terjadi pemahaman.(2)makin banyak kita mengenal seseoramng-keinginannya, pengalamnnay, kemampuannya,ketakutannya, dan lain sebagainya-makin mampu melihat apa yang dilihat orang lain itu dan kita makin bisa merasakan apa yang dirasakannya. (3)cobalah merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain dari sudut pandangnya. Sehingga sangat memungkinkan bahwa kita terhindar dari komunikasi yang terpolarisasi. Polarized Communication / komunikasi yang terpolarisasi. Komunikasi terpolarisasi terjadi ketika komunikator tidak memiliki kemampuan untuk mempercayai dan mempertimbangkan pandangan seseorang sebagai kesalahan yang serius dan opini-opini yang lain sebagai kebenaran. Komunikasi dengan komunitas manusia menjadi ditipekan dengan adanya retorika yaitu bahwa kita yang benar dan mereka yang salah. Komunikasi polarisasi ada ketika kelompok-kelompok atau para individu melihat kepentingan mereka sendiri dan tidak concern pada kepentingan orang lain.
Penghormatan terhadap masing-masing keunikan budaya yang dimilki sekaligusnya disikapi secara manusiawi.Kita tidak melihat dengan kacamata etnosentrisme. Etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang yang dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan budayanya sendiri. “ ( The Random House Dictionary ).

REFLEKSI
Setelah kita pahami tentang komunikasi antarbudaya yang efektif maka perlu kita melakukan refleksi pada diri kita masing-masing bahwa ternyata masih banyak pekerjaan rumah kita terutama untuk lebih mendukung atau sekaligus melakukan kecakapan empatik yang ternyata tidak mudah. Perlu kertramnpilan yang dipelajari dengan sangat serius guna memperoleh harapan harapan terciptanya manusia antarbudaya


Salah satu konsekuensi adanya interaksi budaya tersebut menimbulkan pertemuan budaya yang memungkinkan terjadinya perubahan orientasi pada nilai-nilai yang pada akhirnya mewujud pada apa yang kita sebut sebagai pergeseran, perbenturan (clash) ataupun konflik.

Dan sumber utama penyebabnya adalah komunikasi antar budaya yang tersumbat. Dalam konteks komunikasi antar budaya penyebab spesifik dari konflik tergantung situasi, namun demikian semua peristiwa yang terjadi terbagi dalam satu kebiasaan yang disebut Polarized Communication / komunikasi yang terpolarisasi. Komunikasi terpolarisasi terjadi ketika komunikator tidak memiliki kemampuan untuk mempercayai dan mempertimbangkan pandangan seseorang sebagai kesalahan yang serius dan opini-opini yang lain sebagai kebenaran. Komunikasi dengan komunitas manusia menjadi ditipekan dengan adanya retorika yaitu bahwa kita yang benar dan mereka yang salah. Komunikasi polarisasi ada ketika kelompok-kelompok atau para individu melihat kepentingan mereka sendiri dan tidak concern pada kepentingan orang lain.
Penghormatan terhadap masing-masing keunikan budaya yang dimilki sekaligusnya disikapi secara manusiawi. Maka dapat digambarkan bahwa salah satu konsekuensi dan terjadinya pentemuan antar-budaya ialah kemungkinan tenjadinya perubahan onientasi pada nilai-nilai yang selanjutnya berpengaruh pada terjadinya perubahan norma-norma peradaban sebagai tolokukun penilaku warga masyanakat sebagai satuan budaya. Perubahan onientasi nilai yang benlanjut dengan penubahan norma penilaku itu bisa menjelma dalam wujud pergeseran (shft,), persengketaan (conflict), atau perbenturan (clash). Perubahan dalam wujud yang pertama biasanya tenjadi karena negatif mudahnya adaptasi atau asimilasi antara nilai dan norma lama dengan yang barn dikenal; yang kedua merupakan wujud yang paling sening menggejala dan biasanya memenlukan masa peralihan sebelum dihadapi dengan sikap positif (acceptance) atau negatif (rejection). Biasanya wujud yang kedua menunjukkan adanya ambivalensi dalam masyarakat ybs, sehingga ada sebagian warga masyanakat yang menenima perubahan yang terjadi pada onientasi nilai dan norma penilaku, tapi ada pula sebagian lainnya yang menolaknya.
“ … Etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang yang dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan budayanya sendiri. “ ( The Random House Dictionary ).
Sehingga harapan kita yang terakhir adalah bahwa perbedaan itu adalah sebuah seni untuk membuat persatuab dan keanekaragaman menjadi tetap hidup berdampingan dan terhindar dari konflik. Semoga…..

Rabu, 25 Agustus 2010

KEGUNAAN BELAJAR ILMU KOMUNIKASI

Oleh: Dwi Kartikawati,S.Sos,M.Si

Mengapa kita mempelajari ilmu komunikasi ?Ruben&Steward, (2005:1-8) menyatakan bahwa
1. komunikasi adalah fundamental dalam kehidupan kita.
Dalam kehidupan kita sehari-hari komunikasi memegang peranan yang sangat penting. Kita tidak bisa tidak berkomunikasi.tidak ada aktifitas yang dilakukan tanpa komunikasi, dikarenakan kita dapat membuat beberapa perbedaan yang esensial manakala kita berkomunikasi dengan orang lain.Demikian pula sebaliknya, orang lain akan berkomunikasi dengan kita ,baik dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Cara kita berhubungan satu dengan lainnya, bagimana suatu hubungan kita bentuk, bagaimana cara kita memberikan kontribusi sebagai anggota keluarga, kelompok, komunitas, organisasi dan masyarakat secara luas membutuhkan suatu komunikasi.Sehingga menjadikan komunikasi tersebut menjadi hal yang sangat fundamental dalam kehidupan kita.
2. komunikasi adalah merupakan suatu aktifitas komplek.
Komunikasi adalah suatu aktifitas yang komplek dan menantang. Dalam hal ini ternyata aktifitas komunikasi bukanlah suatu aktifitas yang mudah. Untuk mencapai kompetensi komunikasi memerlukan understanding dan suatu ketrampilan sehingga komunikasi yang kita lakukan menjadi efektif. Ellen langer dalam Ruben&Stewat( 2005:3) menyebut konsep mindfulness akan terjadi ketika kita memberikan perhatian pada situasi dan konteks, kita terbuka dengan informasi baru dan kita menyadari bahwa ada banyak perspektif tidak hanya satu persepektif di kehidupan manusia.
3. komunikasi adalah vital untuk suatu kedudukan/posisi yang efektif.
Karir dalam bisnis, pemerintah, atau pendidikan memerlukan kemampuan dalam memahami situasi komunikasi, mengembangkan strategi komunikasi efektif, memerlukan kerjasama antara satu dengan yang lain, dan dapat menerima atas kehadiran ide-ide yang efektif melalui saluran saluran komunikasi. Untuk mencapai kesuksesan dari suatu kedudukan/ posisi tertentu dalam mencapai kompetensi komunikasi antara lain melalui kemampuan secara personal dan sikap, kemampuan interpersonal, kemampuan dalam melakukan komunikasi oral dan tulisan dan lain sebagainya.
4. Suatu pendidikan yang tinggi tidak menjamin kompetensi komunikasi yang baik.
Kadang-kadang kita menganggap bahwa komunikasi itu hanyalah suatu yang bersifat common sense dan setiap orang pasti mengetahui bagaimana berkomunikasi. Padahal sesungguhnya banyak yang tidak memilki ketrampilan berkomunikasi yang baik karena ternyata banyak pesan-pesan dalam komunikasi manusia itu yang disampaikan tidak hanya dalam bentuk verbal tetapi juga nonverbal, ada ketrampilan komunikasi dalam bentuk tulisan dan oral, ada ketrampilan berkomunikasi secara interpersonal, ataupun secara kelompok sehingga kita dapat berkolaborasi sebagai anggota dengan baik, dan lain-lain. Kadang-kadang kita juga mengalami kegagalan dalam berkomunikasi. Banyak yang berpendidikan tinggi tetapi tidak memilki ketrampilan berkomunikasi secara baik dan memadai sehingga mengakibatkan kegagalan dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Sehingga komunikasi itu perlu kita pelajari.
5. komunikasi adalah populer.
Komunikasi adalah suatu bidang yang dikatakan sebagai popular. Banyak bidang-bidang komunikasi modern sekarang ini yang memfokuskan pada studi tentang pesan, ada juga tentang hubungan antara komunikasi dengan bidang profesiponal lainnya termasuk hukum, bisnis, informasi, pendidikan, ilmu computer, dan lain-lain. Sehingga sekarang ini komunikasi sebagai ilmu social/perileku dan suatu seni yang diaplikasikan. Disiplin ini bersifat multidisiplin, yang berkaitan dengan ilmu-ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, antroplogi, politik, dan lain sebagainya

SUMBER:

Ruben, Brent D,Stewart, Lea P, 2005, Communication and Human Behaviour,USA:Alyn and Bacon

Materi ini ditulis sebagai penulis selaku dosen di Universitas Nasional

PRINSIP PRINSIP KOMUNIKASI DALAM PENERAPAN KONTEKS KEBUDAYAAN

Oleh:Dwi Kartikawati, S.Sos,M.Si

Prinsip-prinsip komunikasi dalam penerapan konteks kebudayaan akan lebih dapat dipahami dalam konteks perbedaan budaya dalam mempersepsi obyek-obyek sosial tertentu. Kemiripan budaya dalam persepsi memungkinkan pemberian makna yang mirip terhadap suatu obyek sosial atau peristiwa. Masalah-masalah kecil yang timbul dalam komunikasi seringkali akibat dari perbedaan persepsi. Perbedaan persepsi ini diakibatkan oleh derajat kesamaan dan ketidaksamaan yang dicapai dalam integrasi sosial antara komunikator dan komunikan.

HOMOFILY DAN HETEROFILY

Homofily adalah derajat atau tingkatan kesamaan dari pasangan sumber dan penerima pesan yang disebabakan oleh ciri-ciri atribut (unsur-unsur budaya) yang sama pada unsur-unsur budaya yang terdapat pada kepercayaan, pendidikan atau status sosial. Sedangkan heterofily adalah cerminan yang berlawanan dengan homofily adalah derajat ketidaksamaan dari pasangan sumber dan penerima pesan yang disebabkan oleh cirri-ciri atribut (unsur budaya)yang berbeda pada unsur-unsur budaya yang terdapat pada kepercayaan, pendidikan atau status sosial.

Menurut Aubrey Fisher (1996) dalam Rumondor (2003) homofily dan heterofily adalah salah satu aspek penerapan prinsip komunikasi dalam konteks antar budaya yang biasanya menjadi subyek kajian ilmuwan psikologi dan ilmuwan komunikasi. Sasaran kajiannya mengenai keterpaduan (cohesiveness) dalam interaksi antar pribadi dan klompok seperti derajat atau tingkat kepuasan, loyalitas kelompok kesetiakawanan atau solidaritas, dan sikap keterlibatan anggota kelompok. Konsep keterpaduan ini adalah cirri komunikasi yang menentukan dan mengembangkan serta memelihara keterpaduan yang tinggi. Prinsip homofily dan heterofily ini menyangkut masalah peranan komunikasi daam meningkatkan kecenderungan para anggota kelompok untuk melakukan pilihan dengan memperhitungkan resiko tercapai tidaknya keterpaduan dan keseimbangan dibandingkan jika dilakukan oleh perorangan.

Perspektif komunikasi tingkat derajat kesamaan (homofily) dan ketidaksamaan (heterofily) ini dimaksudkan agar mencapai komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif berhubungan dengan pertanyaan apakah pesan yang disampaikan komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference) dan kerangka pengalaman (frame of experience) komunikan.. Kerangka acuan ini meliputi : nilai-nilai budaya, agama, serta pendidikan yang yang pernah dialaminya. Jika kerangka acuan dan pengalaman ada kemiripan atau kesamaan, komunikasi akan berlangsung lancar dan efektif.Komunikasi dapat efektif disebabkan juga oleh adanya komunikasi yang persuasive. Komunikasi efektif apabila ada kecocokan rangsangan antara pengiriman dan penerimaan pesan.Prinsip penting dalam heterofily jika trimbul ketidaksamaan maka upaya yang dilakukan adalah menerobos agar ada kesamaan (homofily) dengan menggunakan kemampuan empatik.

Lebih lanjut kita pahami bahwa ketika kita berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol dengan orang lain dengan latarbelakang yang berbeda. Maka selanjutnya kita akan membahas komunikasi sebagai interaksi.

KOMUNIKASI SEBAGAI INTERAKSI
Komunikasi antar budaya merupakan suatu proses interaksi simbolik yang melibatkan individu-individu dan atau kelompok-kelompok yang memilki persepsi-persepsi dan cara-cara bertingkah laku yang berbeda sedemikian rupa, sehingga akan sangat mempengaruhi cara berlangsungnya dan hasil dari komunikasi tersebut. Atau dengan kata lain komunikasi dapat dirumuskan sebagai perilaku simbolik yang menghasilkan berbagai derajat pembagian bersama makna dan nilai diantara para partisipannya (Faules & Alexander, 1978:5-&)
Dari definisi di atas maka dilihat konsep-konsep antara lain:
1. Perilaku simbolik
menunjuk pada`kmampuan seseorang untuk memberi respon pada atau mrnggunakan seperangkat sistem simbol yang signifikan misalnya bahasa yang memungkinkan manusia unutk melibatkan diri dalam perilaku-perilaku yang kompleks.
2. Pembagian makna bersama
hal ini terjadi bilamana dua orang mempersepsikan sesuatu secara sama pada simbol tersebut. Makna yang sama tercapai bila simbol membangkitkan respon yang sama antara pengirim dan penerima, walaupun tidak persis sama.
3. Di antara para partisipannya
tindakan komunikasi merupakan suatu tindakan yang interaktif.

Sumber Bacaan:

Rumondor, Alex H, Komunikasi Antar Budaya, Universitas Terbuka, 2005
Sunarwinadi, Ilya, Komunikasi Antar Budaya,PAU Ilmu-Ilmu Sosial,UI

Materi ini ditulis oleh penulis selaku dosen di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Nasional yang disintesis dari dua sumber di atas dan telah diajarkan mulai tahun 2006-sekarang.

MASALAH, HAMBATAN, DAN STRATEGI PENINGKATAN KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Oleh Dwi Kartikawati,S.Sos,M.Si

Masalah masalah dalam KAB

Masalah maslah dalam KAB terjadi karena alasan yang bermacam-macam karena komunikasi mencakup pihak-pihak yang berperan sebagai pengirim dan penerima secara berganti-ganti maka masalah atau kesulitan dari dapat terjadi dari semua pihak maslah tersebut antara lain
1. keanekaragaman dari tujuan tujuan komunikasi
maslah komunikasi sering terjadi karena alasan dan motivasi untuk berkomunikasi yang berbeda-beda. Dalam situasi antarbudaya perbedaan ini dapt menimbulkan masalah.Contoh
2. etnosentrisme
banyak orang yang menganggap caranya melakukan persepsi terhadap hal-hal disekelilingnya adalah satu-satunya yang paling tepat dan benar. Padahal harus disadari bahwa setiap orang memiliki sejarah masa lalunya sendiri sehingga apa yang dianggapnya baik belum tentu sesuai dengan persepsi orang lain
Menurut The Random House Dictionary etnosentrisme adalah kepercayaan pada superioritas kelompok atau budayanya sendiri, etnosentrisme cenderung menganggap rendah orang-orang yang dianggap asing dan memandang atau mengukur budaya-budaya asing dengan budayanya sendirikarena etnosentrisme biasanya dipelajari pada tingkat ketidaksadaran dan diwujudkan pada tingkat kesadaran, sehingga sulit untuk melacak asal usulnya. Bahayanya penilian itu sering kali salah, semena-mena dan tidak berdasar sama sekali.
3. tidak adanya kepercayaan
karena sifatnya yang khusus komunikasi antarbudaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat. Orang umumnya segan untuk mengambil resiko berhubungan dengan orang asing.
4. penarikan diri
komunikasi tidak mungkin terjadi bila salah satu pihak secara psikologis menarik diri dari pertemuan yang seharusnya terjadi. Ada dugaan bahwa macam-macam perkembangan saat ini antara lain meningkatnya urbanisasi, perasaan-perasaan orang untuk menarik diri, apatis semakin banyak pula.
5. tidak adanya empati
beberapa hal yang menghambat empati antara lain:
a. focus terhadp diri sendiri secara terus menerus, adalah sulit untuk memusatkan perhatian pada orang lain kalau kita berpikir tentang diri kita secara terus menerus dan bagaimana orang menyukai kita
b. pandangan-pandangan stereotype mengani ras dan kebudayaan
c. kurangnya pengetahuan terhadap kelompok, kelas atau orang tertentu
d. tingkahlaku yang menjauhkan orang untuk mengungkapakan informasi
e. tindakan atau ucapan yang seolah-olah menilai orang lain
f. sikap tidak tertarik yang dapat mengakibatkan orang tidak mau mengungkapkan diri
g. sikap superior
h. sikap yang menunjukkan kepastian
jika seseorang bersikap sok tahu atau bersikap seolah-olah serba tahu maka kemungkinan orang akan bersikap defensif terhadapnya.
6. kekuasaan
kekuasaan digunakan untuk mengontrol atau menentukan tindakan orang lain.
7. factor-faktor penghambat komunikasi hambatan berat KAB: Stereotype dan prasangka
masalah stereotyping dan prasangka ini adalah masalah utama dan yang sering terjadi dalam masalah KAB. Stereotyping ini meliputi keyakinan kita mengenai kelompok-kelompok individu berdasarkan pendapat, persepsi dan sikap yang dibentuk sebelumnya. Tingkah laku kita selanjutnya seringkali ditentukan oleh tingkat stereotyping tersebut.
Stereotyping juga dikatakan sebagai metode malas berinteraksi karena berdasarkan pengetahuan atau pengalaman kontak sedikit saja sebelumnya. Pengambilan kesimpulan tentang orang lain dilakukan tanpa susah dan capat.
Selain itu stereotyping merupakan mekanisme untuk pertahan diri dan sarana untuk mengurangi kegelisahan. Contoh bila seseorang mengalami culture shock akan lebih mudah baginya untuk melakukan stereotyping daripada terus menerus menghadapi ketidaktentuan. Daripada melakukan usaha khusus untuk memahami orang-orang lain dalam situasi yang asing lebih baik baginya untuk mengurangi kebingungannya dengan menerima informasi yang belum tentu benar sehingga muncul stereotyping yang kaku dan sulit berubah yang menghambat KAB
8. hambatan derajat kesamaan/ketidaksamaan
hambatan KAB dapat ditimbulkan oleh masalah prinsip-prinsip komunikasi yang ditetapkan pada konteks kebudayaan yaitu tidak memahami, menyadari atau memanfaatkan derajat kesamaan atau perbedaan kepercayaan,nilai-nilai dan sikap, pendidikan, status sosial anatara komunikator dan komunikan.Prinsip derajat kesamaan dan ketidaksamaan ini dikenal dengan homofily dan heterofily
9. hambatan pembentukan dan pemrograman budaya
hambatan ini terjadi dalam suatu proses akulturasi yang berlangsung antara imigran dengan masyarakat pribumi. Dalam akulturasi berkembang proses pembentukan kebudayaan dan penyesuaian kebudayaan antara imigran dan pribumi yang dapat diatasi dengan membiasakan berkomunikasi secara terus menerus. Masalah yang yang umum sering timbul adalah hambatan stereotype dan prasangka yang biasanya berkembang sejak semula melalui komunikasi
antarpribadi ataupun komunikasi massa.. Disamping itu karena pada mulanya belum berkembangnya citra diri dan jaringan komunikasi dari pihak imigran disebabkan jarak geografis dan jarak sosial serta factor demografis dengan masyarakat pribumi

Strategi peningkatan KAB

Interaksi antar budaya yang berhasil adalah didasarkan pada komunikasi yang efektif. Berikut ini adalah beberapa tehnik, kiat, dan falsafah yang dapat membantu pengembangan sikap dan ketrampilan berkomunikasi antarbudaya.
1. mengenali diri sendiri
2. menggunakan kode yang sama
3. menunda penilaian dan memberi cukup waktu pada orang lain untuk mencapai tujuannya
4. memperhitungkan lingkungan fisik dan manusia
5. meningkatkan ketrampilan berkomunikasi
hal; ini dapat dilakukan dengan menumbuhkan minat, adanya pengaturan pesan yang akan disampaikan, cara penyampaian yang baik dan menumbuhkan minat serta adanya penerimaan terhadap pesan secara dinamis.
6. mendorong feedback
feedback memungkinkan para komunikator untuk memperbaiki dan menyesuaikan pesannya sesuai keadaan. Tanpa feedback tidak mungkin proses komunikasi dapat dipantau dan karenanya tidak mungiin kesepakatan dapat tercapai
7. mengembangkan empati
ada beberapa langkah mengembangkan empati
a. mengasumsikan perbedaan
b. mengenali diri sendiri
c. mengaburkan batas diri dan lingkungannya
d. secara imaginative meletakkan diri ditempat orang lain
e. melakukan empati
f. membangun kembali konsep diri
8. mencari persamaan-persamaan diantara kebudayaan-kebudayaan yang berbeda

Sumber bacaan

Liliweri, Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, LKIS, Yogyakarta,
2007
Rumondor, Alex H, Komunikasi Antar Budaya, Universitas Terbuka, 2005

Materi ini disintesis dari dua sumber diatas telah menjadi bahan kuliah saya sebagai dosen di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Nasional untuk mata kuliah Komunikasi Antar Budaya dari tahun 2006-sekarang.